Langsung ke konten utama

AQUILLA LAVOISIER: TUJUAN DAN PERUBAHAN SEORANG PENDIDIK



AQUILLA LAVOISIER: TUJUAN DAN PERUBAHAN SEORANG PENDIDIK

               

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh…

Halo, selamat datang teman-teman semua di blog gue, kenalin nama gue Adam Julio Waskito biasa dipanggil Adam atau Waskito, tapi yang paling sering sih dipanggil nengok (buat yang paham aja) hehe..

Gue sekarang sedang menempuh Pendidikan di salah satu kampus keguruan terbaik di Indonesia, iyaa yaitu UI (Universitas IKIP), atau lebih dikenal UNJ. Nah, di UNJ ini gua ambil prodi Pendidikan Kimia, tadinya sih gue mau ambil komputer, tapi gajadi soalnya keamanan ketat euy. Gue punya cita-cita, sebnernya bukan cita-cita sih, lebih tepatnya ambisi dalam hidup. Okay, di tulisan kali ini gua mau cerita tentang kenapa gua memilih melanjutkan pendidikan di jurusan kimia, tepatnya di Pendidikan kimia ini serta alasan gue memilih untuk menjadi guru.

**********

Sebelumnya gue mau prolog dulu nihh. Tulisan ini gua merupakan salah satu tugas dari salah satu mata kuliah yang gue ambil, yaitu TKK. TKK ini akronim dari Telaah Kurikulum Kimia. Sebnernya tugas ini gak cuman ditujukan untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah TKK, tapi beberapa mata kuliah yang diajar oleh dosen gue, bu Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D. Beliau ini menurut gue keren dan inspiratif. Selain memiliki banyak prestasi saat masa kuliahnya, beliau juga bisa melanjutkan Pendidikan pascasarjana di Australia dengan beasiswa yang didapatkannya. Terkadang, belau berbagi cerita inspiratif nya dan kadang nge-compare antara Pendidikan di sana dan di Indonesia. Nahh setelah perkenalan dosen gue, sekarang gua lanjutin tujuan gue menulis tulisan ini. Sebelumnya gue ga pernah nulis blog sama sekali, tapi kali ini gua mau belajar sekaligus mencoba untuk ngebuat tulisan. mungkin temen-temen gue, atau bahkan kaka tingkat gue banyak yang menggunakan Bahasa formal atau kata-katanya penuh majas udeh kayak masak air ampe matang, CAKEPPP

Gue lebih memilih nulis dengan Bahasa gaul karena gue punya prinsip yang mana gua kutip dari salah satu pembicara terkenal yaitu Pandji Pragiwaksono kalo

Sedikit lebih beda, lebih baik, daripada sedikit lebih baik”.   

                    



menurut interpretasi gue, perkataan pandji kurang lebih artinya lebih baik lu menjadi beda. kenapa? karena jika lo beda lu uniqe. dan jika lo uniqe, maka orang-orang akan notice dengan lo atau karya-karya lo. Jadi, itulah kenapa gue lebih memilih untuk ‘beda’ dari kebanyakan orang dan lebih prefer dengan style menulis gue sendiri. Ketika berbicara tentang menulis, gue teringat dengan salah satu pahlawan wanita bangsa Indonesia, siapa itu? ya itulah dia, R.A. Kartini. Lo kalau denger R.A. Kartini, mungkin yang ada di pikiran lo adalah salah satu tulisan suratnya yang ditujukan kepada sahabatnya di Eropa yang berjudul “Sehabis Gelap, Terbitlah Terang”. Gue mau garis bawahi tentang kehebatannya yang dapat mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang menjadi 'trigger' kelompok-kelompok revolusi di Indonesia pada saat itu, bahkan di Belanda juga. Perlu lo keathui,  Kartini ditempatkan di dalam suatu ruangan yang hanya diberikan buku dan tempat tidur serta hanya diperbolehkan untuk menulis surat. Yang menurut gue brillian adalah dengan kondisi seperti itu, R.A. Kartini dapat memunculkan pemikiran-pemikiran atau gagasan yang enggak kepikiran oleh wanita-wanita Indonesia pada saat itu, bahkan para kaum terpelajar. Gagasannya yang ‘mencerahkan’ telah menjadi gagasan bagi orang-orang revolusioner pada kala itu. 




Menurut Slametmuljana dalam Nasionalisme sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia (1963: hlm. 51)  pemikiran Kartini kala itu menjadi dasar didirikannya kelompok diskusi “Raden Ajeng Kartini Club” yang dibentuk oleh Tjipto Mangoenkoesoemo  pada 3 September 1912 di Surabaya. Perlu lo ketahui, tjipto ini merupakan pembangkang pada saat itu. Ia keluar dari Boedi Oetomo karena tidak puas terhadap anggaran dasar organisasi yang hanya berkenaan membahas masalah orang-orang Jawa. Lalu terinspirasi dengan gagasan Kartini yang kemudian mendirikan kelompok diskusi di kemudian hari telah menciptakan para revolusioner bangsa. Dengan itu, gue sadar kalau menulis itu merupakan ‘senjata’ massif terampuh daripada nuklir. ‘Tulisan’ dapat merubah pemikiran orang-orang, dapat menggerakkan hati orang-orang, dan dapat membuat orang melakukan sesuatu secara sadar. Jika nuklir dapat membunuh jutaan manusia dalam hitungan jam, tulisan dapat membuat jutaan manusia melakukan perbuatan tersebut dengan sadar. Tulisan itu layaknya ‘mata pisau’ yang sangat terpolarisasi pengaruhnya. Jadi, mungkin untuk diri gue sendiri, atau pembaca, gue saranin kalau lo mau menjadi poros pergerakkan bangsa, mulailah menulis dari seakarang.

            Okay, setelah gua bercerita Panjang lebar, gue akan ngasih tau tujuan tulisan gue. Secara induktif  tulisan gue ini bertujuan selain untuk tugas mata kuliah, juga untuk menggerakkan banyak orang. spesifically, gua ingin untuk menggerakkan para pendidik dan juga para siswa-siswa di Indonesia untuk menjadi poros pergerakkan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan di Indonesia ini tercapai. Lebih rinci lagi.
            Awal mulanya gue memilih kuliah di Pendidikan Kimia ini karena gue udah nyoba tes sana sini dari mulai SNMPTN (jaman gue namanya masih ini) yang menggunakan seleksi rapot hingga tes mandiri untuk bisa berkuliah di PTN. Kalo gue hitung-hitung nih, ada sekitar 9 tes gue gagal, tes yang kesepuluh inilah gue baru diterima di jalur mandiri UNJ dengan suatu ‘keajaiban’. Kenapa gue bilang ajaib, karena dari semua mandiri yang gua jalanin, hanya mandiri UNJ yang gua ngerjain soal seleksinya dengan ngasal dan pasrah yang pada akhirnya gue lolos. Dulu gue sempet berdoa kalau missal gue diterima di sini gue bakal ngebantu banyak orang dan bermanfaat bagi banyak orang. Sebnernya gue lebih suka prodi Kimia karena menurut gue, gue jago di bidang ini dan passion. Nahh, gue memilih Pendidikannya karena setelah dua kali mencoba di Kimia nya gue tertolak. Yaudeh gua coba pendidikannya dan diterima. Lalu dulu kadang gue bertanya-tanya, kenapa yahh Allah memberi gua jalan di Pendidikan padahal gue gabisa ngajar (menurut pengakuan hampir seluruh temen gue di sekolah) kimia dan ga suka ngajar. gua yakin ini merupakan jalan yang benar-benar 'dipilih' untuk gue. karena secara logis gamungkin gue bias mengalahkan beribu-ribu orang dengan keadaan yang seperti itu. untuk tau jawabannya, gua harus hidup beberapa tahun lagi hingga Allah memberitahu jawaban yang gue tanyakan. Gimana? yaitu dengan gue diberikan pilihan untuk pindah kampus.

Selama gue kuliah, gue enjoy dengan kimia, tapi gua kurang srek dengan UNJ karena menurut gue kurang terlirik, akhirnya gue memutuskan untuk pindah di tahun kedua ke kedinasan di bawah naungan kementrian keuangan. Alasan gue ingin pindah yaitu ada dua. First of all, karena gue merasa kalau kuliah di sana gue bakal kuliah gratis dan hidup terjamin. Second, gue dendam karena gue ketolak dulu Okay, akhirnya gua belajar dan bersemangat sampai akhirnya gue keterima di sana. Di setiap malam gue berdoa semoga gue dapat lolos tes nya, dan in the end Allah ngabulin doa gue. Setelah gue keterima gue seneng dulu karena ga nyangka. Setelah sekitar 30 menit gue jadi bimbang dan bingung gue harus pindah atau enggak. Gue minta jawaban Allah apakah gue harus pindah atau enggak, namun tidak juga diberikan jawabannya. Yang gue tidak mengerti adalah, kenapa hati gue gamau gue untuk pindah, lalu gue konsultasi ke temen gue dan dia membantu gue untuk mencari jawaban dengan metode ikigai. Buat lo yang enggak tau ikigai itu apa, ikigai itu singkatnya semacam metode untuk mengetahui tujuan hidup kita yang mana temen gue membantu gue mengetahui tujuan hidup gue. Hasilnya, tujuan hidup gue lebih prefer untuk kuliah di Pendidikan Kimia dibanding menjadi seorang ASN dengan hidup nyaman dan tenang. Alhasil, gue memilih untuk enggak pindah. Di saat hari daftar ulang gue memberi tahu orang tua gue kalau gue enggak ingin pindah hingga ribut. Dengan prinsip gue sendiri, akhirnya gue memilih untuk kuliah dengan pilihan gue sendiri tanpa dukungan orangtua gue. gue memilih untuk nantinya berprofesi menjadi guru yang notabene berpenghasilan 'jauh' lebih kecil disbanding gue menjadi ASN di Kementrian Keuangan nanti. Karena gue seorang yang idealis, gue akan mengejar tujuan gue. Enggak peduli kek mau gue susah nantinya, yang penting gue hidup di atas pilihan gue dan bahagia dengan pilihan gue. Tapi, masih aje gua bingung, bahkan teman-teman gue bingung, kenapa lu melepas 'nya' dan memilih untuk menjadi guru. Gue masih belum menemukan jawabannya hingga cerita berikut ini. 

Gue memilih untuk tetap di prodi gue karena gue merasa passion gue itu di bidang sains. Gue melihat mata kuliah soshum itu bukan gue banget deh. Gue juga suka dengan kimia dan merasa jago di bidang ini. dengan passion dan 'bakat' yang gue yakini, gue memilih kuliah di Pendidikan Kimia UNJ. Tetapi, pada saat itu, gue masih belum menemukan alasan gue secara ‘bulat’ kenapa gue memilih untuk menjadi pendidik. jadi untuk pertanyaan "kenapa gue memilih kimia?" jawabannya seperti yang tadi gue sebutin. namun, untuk pendidikannya, kenapa gue memilih itu?, jawaban itu gue temukan dari beberapa kuliah yang telah gue terima selama 3 semester lebih ini dan beberapa pandangan influenza, ehh maksud gue influencer yang gua kagumi, yaitu bang Sabda P.S. Buat lo yang enggak tau dia siapa, dia adalah founder dari Zenius Education dan sekaligus tutor di zenius. Dari mereka itulah gue mengetahui kenapa Allah menjadikan jalan gue di Pendidikan.


**********

Gue adalah typical orang yang gabisa melihat kesalahan dan kebatilan ‘berjalan’ di muka bumi. Gue sadar, Pendidikan di Indonesia ini terdapat banyak kekurangan yang harus gue rubah. gue bukan typical yang akan diem aja dan beranggapan "nanti juga orang lain bakal ngerubah", Gak, gak bisa. Karena gue kuliah di Pendidikan Kimia, maka gue harus memberikan perubahan dari bidang gue, yaitu dalam pengajaran kimia ini. Beberapa problem Pendidikan di Indonesia   yang gue rasakan dan gue dapatkan dari penjelasan Sabda PS tentang ini ini, ialah:

Pertama, kita terlalu fokus untuk menciptakan orang-orang ‘pintar’ dan bukannya ‘cerdas’. Apa yang membedakan keduanya?, menurut Sabda PS perbedaannya terletak pada pola pikir atau thingking skill yang nantinya berkaitan dengan problem solving. Ketika orang pintar memiliki banyak pengetahuan tentang suatu hal, namun terkadang ketika diberikan suatu problem atau permasalahan, ia tidak dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya untuk solving permasalahan yang dimilikinya sedangkan pada orang cerdas, ia memiliki pola pikir yang merupakan basic untuk problem solving. Okay, for example dalam kimia, ketika seorang anak pintar diberikan permasalahan bagaimana cara membuat disinfektan dengan bahan-bahan di sekitar, mereka cenderung untuk tidak bisa membuatnya karena tidak bisa mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan permasalahan yang dihadapinya. Ketika orang cerdas dihadapkan permasalahan tersebut, ia akan berpikir terlebih dahulu apa bahan aktif disinfektan dan bagaimana bahan tersebut dapat bekerja. Setelah mengetahuinya dia akan bisa membuat disinfektan. Mungkin kalau dalam mata pelajaran kimia gue kadang menjumpai anak-anak SMA yang ketika gue kaitkan materi pelajaran yang dipelajari dengan masalah di sekitar atau bahka fenomena alam, hanya sedikit dari mereka yang dapat mengaitkannya.



Thingking skill menurut gue merupakan tools atau modal seseorang untuk memahami suatu informasi dan merupakan dasar untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Ketika lo akan mempelajari hal-hal baru, maka basic ini akan terpakai. Menurut gue, ketika Pendidikan terlalu fokus untuk memberikan pengetahuan dan bukan pemikiran, maka ‘penjajahan pikiran’ akan dapat atau bahkan selalu terjadi. Yang gue rasakan ialah, ketika thingking skills tidak diajarkan di sekolah, output yang dihasilkan Pendidikan kita akan sulit untuk menciptakan generasi yang kreatif dan inovatif. Menurut gue, hal fundamental untuk menjadi seorang inventer ialah memiliki basic thingking skills yang nantinya dapat memunculkan sikap critical thingking yang menjadi modal untuk seseorang untuk berinovasi. Menurut Ki Hadjar Dewantara, tujuan Pendidikan kita ini salah satunya ialah humanisme, yang mana dapat memanusiakan manusia. Untuk mewujudkan hal tersebut, jika kita hanya berfokus terhadap pemahaman materi kepada siswa saja, maka setiap pelajaran tidak akan ada moral value yang dapat digunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Karena itulah tujuan utama Pendidikan bukan?. 

Kedua, masalah Pendidikan kita sekarang, terutama yang gue rasakan, dalam bidang kimia adalah learning outcomes yang dirasakan siswa kurang sekali. Hal tersebut yang menyebabkan siswa terkadang merasa “buat apa gue belajar kimia, toh gue beli somay gabakal ngitung mol nya berapa” atau beberapa pelajaran yang lain. Atau mungkin lo bisa membuktikan sendiri dengan bertanya ke anak SMA, “selama lo belajar kimia di SMA, apakah lo menggunakan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari”. Menurut gue hal tersebut membuat pembelajaran di sekolah menjadi tidak bermakna dan menjadikan ilmu yang didapat di sekolah menjadi “sia-sia”. Padahal, illmu pengetahuan, terutama ilmu sains merupakan ilmu yang menjelaskan suatu realitas secara objektif. Artinya, ilmu sains ‘seharusnya’ sangat dekat dengan kehidupan namun yang dijumpai malah seperti ‘terpolarisasi’ antara kehidupan dengan sains.



Dari kedua permasalahan yang gue alami ini, dapat dipahami secara induktif kalau Pendidikan di Indonesia “sedang tidak baik-baik saja”. Pendidikan seharusnya dapat memunculkan nilai-nilai baru untuk tiap individu yang dapat meningkatkan derajatnya ke taraf ‘insan’. Hal tersebut merupakan tujuan Pendidikan yang dikemukakan oleh bapak Pendidikan kita, yaitu Ki Hadjar Dewantara. Namun, jika kita melihat realitas in, maka tujuan Pendidikan tidak akan terlaksana karena selama 12 tahun, nilai-nilai yang didapatkan tidak sebanding dengan banyaknya waktu belajar. Yang dialami. Melihat kedua permasalahan ini, gue menjadi yakin mengapa gue ditakdirkan di jalan Pendidikan. Gue bertujuan, atau lebiht tepatnya berambisi untuk memberikan perubahan dalam bidang Pendidikan ini secara massif.

Langkah yang harus dilakukan menurut gue ialah minimal memperbaiki kedua permasalah tadi karena sangat fundamental banget bro. Sebenarnya masih banyak masalah-masalah yang lain di Pendidikan kita, namun, gue kelak nanti jadi seorang pendidik, yang bisa gue lakukan ialah memperbaiki kedua masalah tersebut. Ketika gue akan menjadi guru, gue akan fokus terhadap learning outcomes, thingking skill, dan mentality. Kenapa mental juga? karena presiden kita berbicara tentang revolusi mental. Sebenernya gue belum paham apa maksudnya, tapi belakangan ini gue paham. Pelajar Indonesia ini punya statement kalua misalnya orang hebat dari lahir, atau dari bakat. ketika lo lahir bukan dalam keadaan pintar, maka lo GAAKAN BISA MENGUASAI SKILL TERTENTU. Padahal, orang-orang yang berhasil atau sukses, mereka menjawab bukan dari bakat sejak lahir, melainkan deliberate practice. dan juga sering lo jumpai kalo ketika murid mau belajar, makan dia akan buat persepsi kalo dia gak bisa. menurut gue itu merupakan pembunuhan berfikir karena dengan itu, maka otak akan percaya kalau individu tersebut enggak akan bisa mempelajari sesuatu. Dan itulah yang terjadi saat ini. Persepsi kita mengatakan bahwa rakyat Indonesia ini gabisa produktif, enggak bisa maju, enggak bisa memberikan terobosan baru bagi negeri. alhasil, beginilah kita, focus untuk 'bekerja' dan bukan menciptakan lapangan pekerjaan. Masih inget tujuan Pendidikan yang gue bilang tadi? iya, itu dia, bahkan lulusan sarjana pun akan sulit untuk menghidupkan orang banyak, sulit untuk memanusiakan manusia lain. Kalau lo tau kerbau bajak sawah, itu menurut gue analogi yang pas. kita 'terperangkap' kedalam pemikiran sendiri seperti layaknya kerbau. sebenernya kerbau itu bisa aje kabur dari majikannya atau melawan orang yang memperkerjakannya, tapi karena alam bawah sadarnya dikuasai maka kerbau hanya nurut aje. itulah kenapa kita harus jadi orang-orang revolusioner, yang bisa keluar dari 'penjara pikiran' itu. Oleh sebab itulah menurut gue tiga hal tersebut merupakan fundamental uuntuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia.

Okay, kembali ke tujuan gue mengapa ingin menjadi seorang guru, gue ingin memperbaiki Pendidikan di Indonesia sebagai langkah untuk menciptakan bangsa yang mandiri, maju, dan berintegritas. Gue ingn menciptakan seorang generasi seperti Elon Musk yang merupakan ilmuwan terpandang saat ini. Sekarang gue mengetahui mengapa gue menolak untuk menjadi ASN atau aparatur sipil negara, yaitu karena dengan gue menjadi ASN, maka pergerakan yang dapat gue lakukan tidak akan luas dan terbatas. gue akan senagn untuk berada di 'zona nyaman' ketimbang memperbaiki Pendidikan bangsa. Akhirnya, gue mengetahui tujuan kenapa gue ditakdirkan di jalan Pendidikan ini. Gue bersyukur kepada Allah karena telah memberikan jalan yang terbaik buat gue. Gue juga berterima kasih kepada hati gue karena telah mengetahui tujuan hidup gue yang bermanfaat ini dan 'revolusioner' ini. Jadi, gue berpesan untuk orang-orang yang kelak menjadi seorang pendidik, jadilah seperti Kartini yang dapat menjadi pelatuk untuk kita 'berapi'. Dan jadilah seperti Tjipto Mangukusomo, seorang individu yang sadar akan kesalahan yang terjadi di negeri ini dan menjadi 'pemberontak' bagi para kaum 'tertindas'. Sekali lagi gue ingin mengutip perkataan Pandji Pragiwaksono yang mengatakan “Sedikit lebih beda, lebih baik, daripada sedikit lebih baik”. Jadilah guru yang berbeda, jadilah guru yang bisa merubah 'culture' yang kurang tepat ini. jadilah agen untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Bangsa Indonesia. 
Kalau berbicara revolusi, gue teringat dengan Che Guevara ataupun Nelson Mandela yang bisa memberikan pengaruh besar bagi dunia. gue juga ngefans dengan beberapa tokoh yang sekarang diberi label 'buron' oleh FBI. 


siapa dia? dia itu Julian Assange, pendiri WikiLeaks. menurut gue, dia adalah orang yang berani mengungkap kasus busuk negara, yaitu Amerika Serikat, dan memilih untuk membahayakan dirinya untuk mengungkap kebenaran. Jadi menurut gue, untuk bisa merubah bangsa ini menjadi lebih baik, yang lo bisa lakukan adalah memperbaiki pendidikan saat ini. jika lo pelajar, maka fokuslah bagaiamna membentuk pola pikir yang menjadi modal lo untuk berfikir dan menyadari beberapa kesalahan yang salah atau bahkan menjadi seorang inventor. Untuk lo yang 'akan' atau 'sedang' menjadi seorang pendidik. jadikanlah pembelajaran di sekolah itu menjadi pembelajaran yang 'bermakna' yang mana siswa bukan hanya sekedar know something, tapi juga "how do you know that you know is true?". bangunlah mereka agar menjadi prang-orang yang kritis, bangunlah mereka untuk menjadi seorang yang out of the box. berikanlah outcome  pada setiap pembelajaran hingga anak akan bisa mengaplikasikan ilmu nya di sekolah ke kehidupannya sehari-hari. jadikanlah sains itu dekat dengan kehidupan, bukan dekat dengan 'soal'. jadilah agen untuk Pendidikan kita, jadilah agen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

            Gue teringat perkataan Tan Malaka, seorang tokoh Pendidikan Indonsia yang mengatakan beberapa kutipan berikut:


“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”

Mungkin dengan judul tulisan gue yang berjudul “

“Bergelap-Gelaplah Dalam Terang, Berterang-Teranglah Dalam Gelap ! ”

Okay, mungkin kalau lo notice dengan judul tulisannya, mungkin dari lo ada yang masih penasaran maksud dan arti judulnya apa. Okay gue akan ngejelasin maksudnya.

Pertama, Aquilla. Aquilla merupakan genus dari hewan Elang. Kenapa gue memilih elang? Karena menurut gue elang merupakan representasi dari tujuan Pendidikan kita, dalam hal ini tujuan pendidikan. Seperti yang lo ketahui, elang memiliki pandangan yang sangat tajam dalam membidik mangsanya. Selain itu, di saat ungags-unggas lain menghindari hembusan angin kencang ketika terbang, maka elanglah yang berani untuk terbang lebih tinggi meskupun ia mengetahui kekuatan angin yang semakin besar yang menghantamnya. Sebagai pendidik, tanggung jawab kita cukup besar untuk meniingkatkan Pendidikan bangsa, namun itulah yang membuat kita hebat.



Kedua Lavoisier, mungkin beberapa dari lo sudah mengetahui bahwa Lavoisier adalah bapak kimia dunia karena terobosannya yang merupakan Gerakan awal ilmuan kimia. Dia lah yang pertama mengetahui kalau gas yang kita hirup adalah oksigen. Juga ia lah yang mengetahui bahwa oksigen di bumi hanya sekitar 21%. Akan tetapi, meskipun ia memberikan terobosan besar dalam kimia, namun ia tewas dengan menengaskan di tangan rakyat perancis kala revolusi perancis dikarenakan Lavoisier merupakan seorang penagih pajak bagi rakyat prancis. Begitupun menjadi seorang guru, kita dapat memberikan terobosan besar bagi bangsa ini, walaupun tantangannya adalah terkadang kurang dihargainya perjuangan kita oleh bangsa sendiri.


**********

Itulah sepenggal cerita dari kisah gue mengapa memilih menjadi seorang guru, terutama guru kimia. Okay, mungkin sekian tulisan pertama gue di blog ini, semoga bagi para pembaca bisa menjadi agen dalam peningkatan Pendidikan bangsa ini. Sekian dari gue dan terimakasih atas perhatian lo semua. goodbye...

Komentar

  1. Mantep bgt weii.. Saluut gua dam

    BalasHapus
  2. Mantep bang, the best. Bisa menyadarkan gue yang dulu pernah ditolak kedinasan juga. Top lah pokok'e

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 MEDIA INTERAKTIF UNTUK PEMBELAJARAN

  4 MEDIA INTERAKTIF UNTUK PEMBELAJARAN   Hallo teman-teman pendidik! Kembali lagi ini bersama saya, kali ini kita akan membahas tentang beberapa platform media interaktif untuk pembelajaran yang bisa digunakan oleh teman-teman pendidik pada beberapa mata pelajaran sulit yang membutuhkan media interaktif seperti Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Yuk biar gausah berlama-lama, langsung saja kita cusssss...   Tentunya di era sekarang ini, pembelajaran harus menggunakan berbagai media interaktif untuk menunjang pemblejaran. Media interaktifnya pun, harusnya berbasis teknologi mengingat posisi Indonesia saat ini yang sudah berada di revolusi industri 4.0 yang mana perkembangan teknologi sudah kian massif. Tentulah kita sebagai pendidik harus beradaptasi dengan perkembangan zaman serta harus membuat pembelajaran tidak lagi konvensional seperti dulu, melainkan harus interaktif yang mengajak peserta didik untuk ikut terlibat atau bersifat student center . Beberapa disiplin ...