AQUILLA LAVOISIER: TUJUAN DAN PERUBAHAN SEORANG
PENDIDIK
Assalammualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh…
Halo, selamat datang teman-teman semua di blog
gue, kenalin nama gue Adam Julio Waskito biasa dipanggil Adam atau
Waskito, tapi yang paling sering sih dipanggil nengok (buat yang paham aja) hehe..
Gue
sekarang sedang menempuh Pendidikan di salah satu kampus keguruan terbaik di
Indonesia, iyaa yaitu UI (Universitas IKIP), atau lebih dikenal UNJ. Nah, di UNJ
ini gua ambil prodi Pendidikan Kimia, tadinya sih gue mau ambil komputer,
tapi gajadi soalnya keamanan ketat euy. Gue punya cita-cita,
sebnernya bukan cita-cita sih, lebih tepatnya ambisi dalam hidup. Okay,
di tulisan kali ini gua mau cerita tentang kenapa gua memilih melanjutkan pendidikan
di jurusan kimia, tepatnya di Pendidikan kimia ini serta alasan gue
memilih untuk menjadi guru.
**********
Sebelumnya gue mau prolog dulu nihh. Tulisan
ini gua merupakan salah satu tugas dari salah satu mata kuliah yang gue
ambil, yaitu TKK. TKK ini akronim dari Telaah Kurikulum Kimia. Sebnernya tugas
ini gak cuman ditujukan untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah TKK,
tapi beberapa mata kuliah yang diajar oleh dosen gue, bu Yuli Rahmawati,
M.Sc., Ph.D. Beliau ini menurut gue keren dan inspiratif. Selain memiliki
banyak prestasi saat masa kuliahnya, beliau juga bisa melanjutkan Pendidikan pascasarjana
di Australia dengan beasiswa yang didapatkannya. Terkadang, belau berbagi
cerita inspiratif nya dan kadang nge-compare antara Pendidikan di sana
dan di Indonesia. Nahh setelah perkenalan dosen gue, sekarang gua
lanjutin tujuan gue menulis tulisan ini. Sebelumnya gue ga pernah
nulis blog sama sekali, tapi kali ini gua mau belajar sekaligus mencoba untuk
ngebuat tulisan. mungkin temen-temen gue, atau bahkan kaka tingkat gue
banyak yang menggunakan Bahasa formal atau kata-katanya penuh majas udeh kayak
masak air ampe matang, CAKEPPP…
Gue lebih
memilih nulis dengan Bahasa gaul karena gue punya prinsip yang mana gua
kutip dari salah satu pembicara terkenal yaitu Pandji Pragiwaksono kalo
“Sedikit lebih beda, lebih baik, daripada sedikit
lebih baik”.
menurut interpretasi gue, perkataan pandji kurang lebih artinya lebih baik lu menjadi beda. kenapa? karena jika lo beda lu uniqe. dan jika lo uniqe, maka orang-orang akan notice dengan lo atau karya-karya lo. Jadi, itulah kenapa gue lebih memilih untuk ‘beda’ dari
kebanyakan orang dan lebih prefer dengan style menulis gue
sendiri. Ketika berbicara tentang menulis, gue teringat dengan
salah satu pahlawan wanita bangsa Indonesia, siapa itu? ya itulah dia, R.A. Kartini. Lo kalau denger R.A. Kartini, mungkin yang ada di pikiran lo adalah salah satu tulisan
suratnya yang ditujukan kepada sahabatnya di Eropa yang berjudul “Sehabis Gelap, Terbitlah Terang”.
Gue mau garis bawahi tentang kehebatannya yang dapat mengeluarkan pemikiran-pemikiran
yang menjadi 'trigger' kelompok-kelompok revolusi di Indonesia pada saat itu, bahkan di Belanda juga. Perlu lo keathui, Kartini ditempatkan di dalam suatu ruangan yang hanya
diberikan buku dan tempat tidur serta hanya diperbolehkan untuk menulis surat. Yang menurut gue brillian adalah dengan kondisi seperti itu, R.A. Kartini dapat memunculkan
pemikiran-pemikiran atau gagasan yang enggak kepikiran oleh wanita-wanita Indonesia pada saat itu, bahkan para kaum terpelajar. Gagasannya yang ‘mencerahkan’ telah menjadi gagasan bagi orang-orang revolusioner pada kala itu.
Menurut Slametmuljana dalam Nasionalisme sebagai Modal
Perjuangan Bangsa Indonesia (1963: hlm. 51) pemikiran Kartini kala itu menjadi dasar
didirikannya kelompok diskusi “Raden Ajeng Kartini Club” yang dibentuk
oleh Tjipto Mangoenkoesoemo pada 3
September 1912 di Surabaya. Perlu lo ketahui, tjipto ini merupakan
pembangkang pada saat itu. Ia keluar dari Boedi Oetomo karena tidak puas terhadap
anggaran dasar organisasi yang hanya berkenaan membahas masalah orang-orang
Jawa. Lalu terinspirasi dengan gagasan Kartini yang kemudian mendirikan kelompok
diskusi di kemudian hari telah menciptakan para revolusioner bangsa. Dengan itu,
gue sadar kalau menulis itu merupakan ‘senjata’ massif terampuh daripada
nuklir. ‘Tulisan’ dapat merubah pemikiran orang-orang, dapat menggerakkan hati
orang-orang, dan dapat membuat orang melakukan sesuatu secara sadar. Jika nuklir
dapat membunuh jutaan manusia dalam hitungan jam, tulisan dapat membuat jutaan
manusia melakukan perbuatan tersebut dengan sadar. Tulisan itu layaknya ‘mata
pisau’ yang sangat terpolarisasi pengaruhnya. Jadi, mungkin untuk diri gue
sendiri, atau pembaca, gue saranin kalau lo mau menjadi poros
pergerakkan bangsa, mulailah menulis dari seakarang.
Okay,
setelah gua bercerita Panjang lebar, gue akan ngasih tau tujuan tulisan gue. Secara induktif tulisan gue ini bertujuan selain untuk tugas mata kuliah, juga untuk menggerakkan banyak orang. spesifically, gua ingin untuk
menggerakkan para pendidik dan juga para siswa-siswa di Indonesia untuk menjadi
poros pergerakkan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan di Indonesia ini tercapai.
Lebih rinci lagi.
Awal mulanya
gue memilih kuliah di Pendidikan Kimia ini karena gue udah nyoba
tes sana sini dari mulai SNMPTN (jaman gue namanya masih ini) yang
menggunakan seleksi rapot hingga tes mandiri untuk bisa berkuliah di PTN. Kalo
gue hitung-hitung nih, ada sekitar 9 tes gue gagal, tes yang kesepuluh
inilah gue baru diterima di jalur mandiri UNJ dengan suatu ‘keajaiban’. Kenapa
gue bilang ajaib, karena dari semua mandiri yang gua jalanin, hanya
mandiri UNJ yang gua ngerjain soal seleksinya dengan ngasal dan pasrah yang
pada akhirnya gue lolos. Dulu gue sempet berdoa kalau missal
gue diterima di sini gue bakal ngebantu banyak orang dan
bermanfaat bagi banyak orang. Sebnernya gue lebih suka prodi Kimia
karena menurut gue, gue jago di bidang ini dan passion.
Nahh, gue memilih Pendidikannya karena setelah dua kali mencoba di Kimia
nya gue tertolak. Yaudeh gua coba pendidikannya dan diterima. Lalu
dulu kadang gue bertanya-tanya, kenapa yahh Allah memberi gua jalan di Pendidikan
padahal gue gabisa ngajar (menurut pengakuan hampir seluruh temen gue
di sekolah) kimia dan ga suka ngajar. gua yakin ini merupakan jalan yang benar-benar 'dipilih' untuk gue. karena secara logis gamungkin gue bias mengalahkan beribu-ribu orang dengan keadaan yang seperti itu. untuk tau jawabannya, gua harus hidup beberapa tahun lagi hingga Allah memberitahu jawaban yang gue tanyakan. Gimana? yaitu dengan
gue diberikan pilihan untuk pindah kampus.
Selama gue kuliah, gue enjoy dengan
kimia, tapi gua kurang srek dengan UNJ karena menurut gue kurang
terlirik, akhirnya gue memutuskan untuk pindah di tahun kedua ke
kedinasan di bawah naungan kementrian keuangan. Alasan gue ingin pindah
yaitu ada dua. First of all, karena gue merasa kalau kuliah di sana
gue bakal kuliah gratis dan hidup terjamin. Second, gue dendam
karena gue ketolak dulu Okay, akhirnya gua belajar dan bersemangat
sampai akhirnya gue keterima di sana. Di setiap malam gue berdoa
semoga gue dapat lolos tes nya, dan in the end Allah
ngabulin doa gue. Setelah gue keterima gue seneng dulu
karena ga nyangka. Setelah sekitar 30 menit gue jadi bimbang dan bingung
gue harus pindah atau enggak. Gue minta jawaban Allah apakah gue
harus pindah atau enggak, namun tidak juga diberikan jawabannya. Yang gue
tidak mengerti adalah, kenapa hati gue gamau gue untuk pindah, lalu
gue konsultasi ke temen gue dan dia membantu gue untuk
mencari jawaban dengan metode ikigai. Buat lo yang enggak tau
ikigai itu apa, ikigai itu singkatnya semacam metode untuk mengetahui tujuan
hidup kita yang mana temen gue membantu gue mengetahui tujuan
hidup gue. Hasilnya, tujuan hidup gue lebih prefer untuk kuliah
di Pendidikan Kimia dibanding menjadi seorang ASN dengan hidup nyaman dan
tenang. Alhasil, gue memilih untuk enggak pindah. Di saat hari daftar
ulang gue memberi tahu orang tua gue kalau gue enggak
ingin pindah hingga ribut. Dengan prinsip gue sendiri, akhirnya gue
memilih untuk kuliah dengan pilihan gue sendiri tanpa dukungan orangtua gue. gue memilih untuk nantinya berprofesi menjadi guru yang notabene berpenghasilan 'jauh' lebih kecil disbanding gue menjadi ASN di Kementrian Keuangan nanti. Karena gue seorang yang idealis, gue akan mengejar tujuan gue. Enggak peduli kek mau gue susah nantinya, yang penting gue hidup di atas pilihan gue dan bahagia dengan pilihan gue. Tapi, masih aje gua bingung, bahkan teman-teman gue bingung, kenapa lu melepas 'nya' dan memilih untuk menjadi guru. Gue masih belum menemukan jawabannya hingga cerita berikut ini.
Gue memilih
untuk tetap di prodi gue karena gue merasa passion gue itu
di bidang sains. Gue melihat mata kuliah soshum itu bukan gue banget deh. Gue juga suka dengan kimia dan merasa jago di
bidang ini. dengan passion dan 'bakat' yang gue yakini, gue memilih kuliah di
Pendidikan Kimia UNJ. Tetapi, pada saat itu, gue masih belum menemukan
alasan gue secara ‘bulat’ kenapa gue memilih untuk menjadi
pendidik. jadi untuk pertanyaan "kenapa gue memilih kimia?" jawabannya seperti yang tadi gue sebutin. namun, untuk pendidikannya, kenapa gue memilih itu?, jawaban itu gue temukan dari beberapa kuliah yang telah gue
terima selama 3 semester lebih ini dan beberapa pandangan influenza, ehh
maksud gue influencer yang gua kagumi, yaitu bang Sabda P.S. Buat
lo yang enggak tau dia siapa, dia adalah founder dari Zenius
Education dan sekaligus tutor di zenius. Dari mereka itulah gue
mengetahui kenapa Allah menjadikan jalan gue di Pendidikan.
**********
Gue adalah
typical orang yang gabisa melihat kesalahan dan kebatilan ‘berjalan’
di muka bumi. Gue sadar, Pendidikan di Indonesia ini terdapat banyak
kekurangan yang harus gue rubah. gue bukan typical yang akan diem aja dan beranggapan "nanti juga orang lain bakal ngerubah", Gak, gak bisa. Karena gue kuliah di Pendidikan Kimia,
maka gue harus memberikan perubahan dari bidang gue, yaitu dalam
pengajaran kimia ini. Beberapa problem Pendidikan di Indonesia yang
gue rasakan dan gue dapatkan dari penjelasan Sabda PS tentang ini
ini, ialah:
Pertama, kita terlalu fokus untuk menciptakan orang-orang ‘pintar’ dan bukannya
‘cerdas’. Apa yang membedakan keduanya?, menurut Sabda PS perbedaannya terletak
pada pola pikir atau thingking skill yang nantinya berkaitan dengan problem
solving. Ketika orang pintar memiliki banyak pengetahuan tentang suatu hal,
namun terkadang ketika diberikan suatu problem atau permasalahan, ia
tidak dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya untuk solving permasalahan
yang dimilikinya sedangkan pada orang cerdas, ia memiliki pola pikir yang merupakan
basic untuk problem solving. Okay, for example dalam kimia, ketika
seorang anak pintar diberikan permasalahan bagaimana cara membuat disinfektan
dengan bahan-bahan di sekitar, mereka cenderung untuk tidak bisa membuatnya
karena tidak bisa mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan permasalahan
yang dihadapinya. Ketika orang cerdas dihadapkan permasalahan tersebut, ia akan
berpikir terlebih dahulu apa bahan aktif disinfektan dan bagaimana bahan
tersebut dapat bekerja. Setelah mengetahuinya dia akan bisa membuat disinfektan.
Mungkin kalau dalam mata pelajaran kimia gue kadang menjumpai anak-anak
SMA yang ketika gue kaitkan materi pelajaran yang dipelajari dengan
masalah di sekitar atau bahka fenomena alam, hanya sedikit dari mereka yang
dapat mengaitkannya.
Thingking skill menurut gue merupakan tools atau modal
seseorang untuk memahami suatu informasi dan merupakan dasar untuk
menyelesaikan suatu permasalahan. Ketika lo akan mempelajari hal-hal
baru, maka basic ini akan terpakai. Menurut gue, ketika Pendidikan
terlalu fokus untuk memberikan pengetahuan dan bukan pemikiran, maka ‘penjajahan
pikiran’ akan dapat atau bahkan selalu terjadi. Yang gue rasakan ialah, ketika
thingking skills tidak diajarkan di sekolah, output yang dihasilkan Pendidikan
kita akan sulit untuk menciptakan generasi yang kreatif dan inovatif. Menurut gue,
hal fundamental untuk menjadi seorang inventer ialah memiliki basic thingking
skills yang nantinya dapat memunculkan sikap critical thingking yang
menjadi modal untuk seseorang untuk berinovasi. Menurut Ki Hadjar Dewantara,
tujuan Pendidikan kita ini salah satunya ialah humanisme, yang mana dapat
memanusiakan manusia. Untuk mewujudkan hal tersebut, jika kita hanya berfokus
terhadap pemahaman materi kepada siswa saja, maka setiap pelajaran tidak akan
ada moral value yang dapat digunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Karena
itulah tujuan utama Pendidikan bukan?.
Kedua, masalah Pendidikan kita sekarang, terutama yang
gue rasakan, dalam bidang kimia adalah learning outcomes yang
dirasakan siswa kurang sekali. Hal tersebut yang menyebabkan siswa terkadang
merasa “buat apa gue belajar kimia, toh gue beli somay gabakal ngitung
mol nya berapa” atau beberapa pelajaran yang lain. Atau mungkin lo bisa
membuktikan sendiri dengan bertanya ke anak SMA, “selama lo belajar
kimia di SMA, apakah lo menggunakan ilmu tersebut dalam kehidupan
sehari-hari”. Menurut gue hal tersebut membuat pembelajaran di sekolah
menjadi tidak bermakna dan menjadikan ilmu yang didapat di sekolah menjadi “sia-sia”.
Padahal, illmu pengetahuan, terutama ilmu sains merupakan ilmu yang menjelaskan
suatu realitas secara objektif. Artinya, ilmu sains ‘seharusnya’ sangat dekat
dengan kehidupan namun yang dijumpai malah seperti ‘terpolarisasi’ antara
kehidupan dengan sains.
Dari kedua permasalahan yang gue alami ini,
dapat dipahami secara induktif kalau Pendidikan di Indonesia “sedang tidak
baik-baik saja”. Pendidikan seharusnya dapat memunculkan nilai-nilai baru untuk
tiap individu yang dapat meningkatkan derajatnya ke taraf ‘insan’. Hal tersebut
merupakan tujuan Pendidikan yang dikemukakan oleh bapak Pendidikan kita, yaitu
Ki Hadjar Dewantara. Namun, jika kita melihat realitas in, maka tujuan Pendidikan
tidak akan terlaksana karena selama 12 tahun, nilai-nilai yang didapatkan tidak
sebanding dengan banyaknya waktu belajar. Yang dialami. Melihat kedua
permasalahan ini, gue menjadi yakin mengapa gue ditakdirkan di jalan
Pendidikan. Gue bertujuan, atau lebiht tepatnya berambisi untuk memberikan
perubahan dalam bidang Pendidikan ini secara massif.
Langkah yang harus dilakukan menurut gue ialah minimal memperbaiki kedua
permasalah tadi karena sangat fundamental banget bro. Sebenarnya masih banyak masalah-masalah
yang lain di Pendidikan kita, namun, gue kelak nanti jadi seorang pendidik, yang bisa gue
lakukan ialah memperbaiki kedua masalah tersebut. Ketika
gue akan menjadi guru, gue akan fokus terhadap learning
outcomes, thingking skill, dan mentality. Kenapa mental juga? karena presiden kita berbicara tentang revolusi mental. Sebenernya gue belum paham apa maksudnya, tapi belakangan ini gue paham. Pelajar Indonesia ini punya statement kalua misalnya orang hebat dari lahir, atau dari bakat. ketika lo lahir bukan dalam keadaan pintar, maka lo GAAKAN BISA MENGUASAI SKILL TERTENTU. Padahal, orang-orang yang berhasil atau sukses, mereka menjawab bukan dari bakat sejak lahir, melainkan deliberate practice. dan juga sering lo jumpai kalo ketika murid mau belajar, makan dia akan buat persepsi kalo dia gak bisa. menurut gue itu merupakan pembunuhan berfikir karena dengan itu, maka otak akan percaya kalau individu tersebut enggak akan bisa mempelajari sesuatu. Dan itulah yang terjadi saat ini. Persepsi kita mengatakan bahwa rakyat Indonesia ini gabisa produktif, enggak bisa maju, enggak bisa memberikan terobosan baru bagi negeri. alhasil, beginilah kita, focus untuk 'bekerja' dan bukan menciptakan lapangan pekerjaan. Masih inget tujuan Pendidikan yang gue bilang tadi? iya, itu dia, bahkan lulusan sarjana pun akan sulit untuk menghidupkan orang banyak, sulit untuk memanusiakan manusia lain. Kalau lo tau kerbau bajak sawah, itu menurut gue analogi yang pas. kita 'terperangkap' kedalam pemikiran sendiri seperti layaknya kerbau. sebenernya kerbau itu bisa aje kabur dari majikannya atau melawan orang yang memperkerjakannya, tapi karena alam bawah sadarnya dikuasai maka kerbau hanya nurut aje. itulah kenapa kita harus jadi orang-orang revolusioner, yang bisa keluar dari 'penjara pikiran' itu. Oleh sebab itulah menurut gue tiga
hal tersebut merupakan fundamental uuntuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia.
Okay, kembali ke tujuan gue mengapa ingin
menjadi seorang guru, gue ingin memperbaiki Pendidikan di Indonesia
sebagai langkah untuk menciptakan bangsa yang mandiri, maju, dan berintegritas.
Gue ingn menciptakan seorang generasi seperti Elon Musk yang
merupakan ilmuwan terpandang saat ini. Sekarang gue mengetahui mengapa gue
menolak untuk menjadi ASN atau aparatur sipil negara, yaitu karena dengan gue
menjadi ASN, maka pergerakan yang dapat gue lakukan tidak akan luas dan
terbatas. gue akan senagn untuk berada di 'zona nyaman' ketimbang memperbaiki Pendidikan bangsa. Akhirnya, gue mengetahui tujuan kenapa gue ditakdirkan di jalan Pendidikan ini. Gue bersyukur kepada Allah karena telah memberikan
jalan yang terbaik buat gue. Gue juga berterima kasih kepada hati gue karena telah mengetahui tujuan hidup gue yang bermanfaat ini dan 'revolusioner' ini. Jadi, gue berpesan untuk orang-orang
yang kelak menjadi seorang pendidik, jadilah seperti Kartini yang dapat
menjadi pelatuk untuk kita 'berapi'. Dan jadilah seperti Tjipto Mangukusomo, seorang individu
yang sadar akan kesalahan yang terjadi di negeri ini dan menjadi 'pemberontak' bagi para kaum 'tertindas'. Sekali lagi gue ingin
mengutip perkataan Pandji Pragiwaksono yang mengatakan “Sedikit lebih beda,
lebih baik, daripada sedikit lebih baik”. Jadilah guru yang berbeda, jadilah guru yang bisa merubah 'culture' yang kurang tepat ini. jadilah agen untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Bangsa Indonesia.
Kalau berbicara revolusi, gue teringat dengan Che Guevara ataupun Nelson Mandela yang bisa memberikan pengaruh besar bagi dunia. gue juga ngefans dengan beberapa tokoh yang sekarang diberi label 'buron' oleh FBI.
siapa dia? dia itu Julian Assange, pendiri WikiLeaks. menurut gue, dia adalah orang yang berani mengungkap kasus busuk negara, yaitu Amerika Serikat, dan memilih untuk membahayakan dirinya untuk mengungkap kebenaran. Jadi menurut gue, untuk bisa merubah bangsa ini menjadi lebih baik, yang lo bisa lakukan adalah memperbaiki pendidikan saat ini. jika lo pelajar, maka fokuslah bagaiamna membentuk pola pikir yang menjadi modal lo untuk berfikir dan menyadari beberapa kesalahan yang salah atau bahkan menjadi seorang inventor. Untuk lo yang 'akan' atau 'sedang' menjadi seorang pendidik. jadikanlah pembelajaran di sekolah itu menjadi pembelajaran yang 'bermakna' yang mana siswa bukan hanya sekedar know something, tapi juga "how do you know that you know is true?". bangunlah mereka agar menjadi prang-orang yang kritis, bangunlah mereka untuk menjadi seorang yang out of the box. berikanlah outcome pada setiap pembelajaran hingga anak akan bisa mengaplikasikan ilmu nya di sekolah ke kehidupannya sehari-hari. jadikanlah sains itu dekat dengan kehidupan, bukan dekat dengan 'soal'. jadilah agen untuk Pendidikan kita, jadilah agen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kalau berbicara revolusi, gue teringat dengan Che Guevara ataupun Nelson Mandela yang bisa memberikan pengaruh besar bagi dunia. gue juga ngefans dengan beberapa tokoh yang sekarang diberi label 'buron' oleh FBI.
siapa dia? dia itu Julian Assange, pendiri WikiLeaks. menurut gue, dia adalah orang yang berani mengungkap kasus busuk negara, yaitu Amerika Serikat, dan memilih untuk membahayakan dirinya untuk mengungkap kebenaran. Jadi menurut gue, untuk bisa merubah bangsa ini menjadi lebih baik, yang lo bisa lakukan adalah memperbaiki pendidikan saat ini. jika lo pelajar, maka fokuslah bagaiamna membentuk pola pikir yang menjadi modal lo untuk berfikir dan menyadari beberapa kesalahan yang salah atau bahkan menjadi seorang inventor. Untuk lo yang 'akan' atau 'sedang' menjadi seorang pendidik. jadikanlah pembelajaran di sekolah itu menjadi pembelajaran yang 'bermakna' yang mana siswa bukan hanya sekedar know something, tapi juga "how do you know that you know is true?". bangunlah mereka agar menjadi prang-orang yang kritis, bangunlah mereka untuk menjadi seorang yang out of the box. berikanlah outcome pada setiap pembelajaran hingga anak akan bisa mengaplikasikan ilmu nya di sekolah ke kehidupannya sehari-hari. jadikanlah sains itu dekat dengan kehidupan, bukan dekat dengan 'soal'. jadilah agen untuk Pendidikan kita, jadilah agen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Gue
teringat perkataan Tan Malaka, seorang tokoh Pendidikan Indonsia yang
mengatakan beberapa kutipan berikut:
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya
dimiliki oleh pemuda.”
“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan,
memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”
Mungkin dengan judul tulisan gue yang berjudul “
“Bergelap-Gelaplah
Dalam Terang, Berterang-Teranglah Dalam Gelap ! ”
Okay, mungkin kalau lo notice dengan
judul tulisannya, mungkin dari lo ada yang masih penasaran maksud dan
arti judulnya apa. Okay gue akan ngejelasin maksudnya.
Pertama, Aquilla. Aquilla merupakan
genus dari hewan Elang. Kenapa gue memilih elang? Karena menurut gue
elang merupakan representasi dari tujuan Pendidikan kita, dalam hal ini tujuan
pendidikan. Seperti yang lo ketahui, elang memiliki pandangan yang
sangat tajam dalam membidik mangsanya. Selain itu, di saat ungags-unggas lain menghindari
hembusan angin kencang ketika terbang, maka elanglah yang berani untuk terbang
lebih tinggi meskupun ia mengetahui kekuatan angin yang semakin besar yang
menghantamnya. Sebagai pendidik, tanggung jawab kita cukup besar untuk
meniingkatkan Pendidikan bangsa, namun itulah yang membuat kita hebat.
Kedua Lavoisier, mungkin beberapa dari lo
sudah mengetahui bahwa Lavoisier adalah bapak kimia dunia karena terobosannya
yang merupakan Gerakan awal ilmuan kimia. Dia lah yang pertama mengetahui kalau
gas yang kita hirup adalah oksigen. Juga ia lah yang mengetahui bahwa oksigen
di bumi hanya sekitar 21%. Akan tetapi, meskipun ia memberikan terobosan besar
dalam kimia, namun ia tewas dengan menengaskan di tangan rakyat perancis kala
revolusi perancis dikarenakan Lavoisier merupakan seorang penagih pajak bagi
rakyat prancis. Begitupun menjadi seorang guru, kita dapat memberikan terobosan
besar bagi bangsa ini, walaupun tantangannya adalah terkadang kurang
dihargainya perjuangan kita oleh bangsa sendiri.
**********
Itulah sepenggal cerita dari kisah gue
mengapa memilih menjadi seorang guru, terutama guru kimia. Okay, mungkin sekian
tulisan pertama gue di blog ini, semoga bagi para pembaca bisa menjadi
agen dalam peningkatan Pendidikan bangsa ini. Sekian dari gue dan
terimakasih atas perhatian lo semua. goodbye...











Mantep bgt weii.. Saluut gua dam
BalasHapusWihh makasih banyakk kaa
HapusANJAYYYYY SAMPE ADA KUTIPAN
BalasHapusMantep bang, the best. Bisa menyadarkan gue yang dulu pernah ditolak kedinasan juga. Top lah pokok'e
BalasHapus